Akademisi: Gempa NTT pengingat keberadaan zona aktif Nusa Tenggara - ANTARA News Papua Tengah
Mataram (ANTARA) - Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram Aji Syailendra mengatakan gempa dengan magnitudo (M) 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, menjadi pengingat kawasan Nusa...
Mataram (ANTARA) - Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram Aji Syailendra mengatakan gempa dengan magnitudo (M) 7,7 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, menjadi pengingat kawasan Nusa Tenggara berada dalam zona tektonik aktif.
Wilayah Nusa Tenggara memiliki aktivitas tektonik tinggi karena dipengaruhi berbagai struktur sesar aktif, termasuk Flores Back-Arc Thrust atau Sesar Naik Busur Belakang Flores.
"Sesar Naik Busur Belakang Flores merupakan struktur tektonik aktif yang penting dalam memahami potensi gempa dan bencana geologi di Nusa Tenggara," ujar dia dalam pernyataan di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu.
Struktur Sesar Naik Busur Flores memanjang sejauh ratusan kilometer di dasar laut dari utara Flores, Sumbawa, Lombok hingga kawasan Bali. Sistem sesar tersebut memiliki potensi gempa sekitar magnitudo 7,8 sampai 7,9.
Aji menuturkan peristiwa gempa tektonik yang terjadi hari ini merupakan sistem sesar yang sama dengan pemicu gempa Flores tahun 1992 dan rangkaian gempa Lombok tahun 2018 silam.
Menurut dia, keberadaan struktur tektonik aktif tersebut penting dipahami karena Nusa Tenggara tidak hanya menghadapi ancaman gempa bumi, tetapi juga potensi bencana ikutan berupa tsunami.
"Kalau dilihat dari aspek geologi, ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018," kata Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram tersebut.
Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur tercatat berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Lokasi itu terletak sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo dengan kedalaman 15 kilometer.
Aji menjelaskan karakter sesar naik di dasar laut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar dapat menyebabkan perubahan vertikal dasar laut.
Perubahan tersebut selanjutnya dapat mendorong kolom air dan berpotensi memicu tsunami apabila memenuhi kondisi yang diperlukan.
Sejarah mencatat kawasan Nusa Tenggara pernah mengalami dampak besar akibat aktivitas gempa bumi tektonik yang berlangsung pada 12 Desember 1992.
Gempa Flores kala itu memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi dengan ketinggian gelombang mencapai sekitar 26 meter serta menyebabkan lebih dari 2.500 orang meninggal dunia.
"Dari sudut pandang geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah yang sering gempa. Kawasan itu berada pada zona tektonik aktif dengan berbagai potensi bencana geologi mulai dari gempa bumi hingga tsunami," kata Aji.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyebut sebanyak lima orang meninggal dunia akibat gempa tektonik berkekuatan 7,7 magnitudo di Mbay, Kabupaten Nagekeo.
BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami kemudian resmi dicabut pada pukul 08.30 WITA setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Gempa NTT jadi pengingat keberadaan zona aktif di Nusa Tenggara
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.