Airlangga: DEFA dongkrak ekonomi digital RI hingga 600 miliar dolar AS
nilai pasar digital ASEAN diperkirakan dapat meningkat dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS setelah implementasi DEFA. Indonesia diproyeksikan memperoleh porsi sekitar 30-40 persen dari pa...
nilai pasar digital ASEAN diperkirakan dapat meningkat dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS setelah implementasi DEFA. Indonesia diproyeksikan memperoleh porsi sekitar 30-40 persen dari pasar tersebut
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto menilai kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) ASEAN berpotensi mendorong nilai ekonomi digital Indonesia hingga mencapai 600 miliar dolar AS.
Airlangga mengatakan berdasarkan studi sebelumnya, nilai pasar digital ASEAN diperkirakan dapat meningkat dari sekitar 1 triliun dolar AS menjadi 2 triliun dolar AS setelah implementasi DEFA. Indonesia diproyeksikan memperoleh porsi sekitar 30-40 persen dari pasar tersebut.
"Dengan adanya Digital Economy Framework berdasarkan studi yang sebelumnya pasar digital ASEAN 1 triliun (dolar AS) ini akan meningkat menjadi 2 triliun, dan bagi Indonesia sekitar 30 sampai 40 persen, maka ini otomatis kita bisa mendorong digital ekonomi ini sampai 600 miliar dolar," ujar Airlangga di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, Kamis.
Menurut Airlangga, pengembangan ekosistem digital perlu didukung infrastruktur yang memadai, mulai dari energi hijau, pusat data, hingga platform e-commerce.
Pemerintah juga mengapresiasi perkembangan e-commerce yang tidak hanya digunakan untuk transaksi domestik, tetapi mulai dimanfaatkan pelaku usaha untuk memasarkan produk ke pasar ekspor.
Baca juga: Airlangga: Penguatan AI hingga data center fondasi ekonomi digital RI
Baca juga: Airlangga: Pembayaran digital dukung transformasi perdagangan nasional
Di tingkat ASEAN, pemerintah saat ini tengah menyiapkan DEFA yang diharapkan dapat ditandatangani pada November 2026 di Manila, Filipina.
Airlangga mengatakan salah satu manfaat awal atau low hanging fruit dari DEFA adalah integrasi sistem pembayaran. Indonesia telah memiliki QRIS yang diharapkan dapat digunakan lebih luas di negara-negara ASEAN.
Saat ini, QRIS telah dapat digunakan di lima negara ASEAN. Menurut Airlangga, perluasan penggunaan QRIS akan memberikan keuntungan bagi UMKM karena pedagang dapat menikmati biaya transaksi yang lebih rendah.
"Kalau menggunakan QRIS mendapatkan keuntungan karena tidak ada dalam tanda petik merchant discount. Jadi biayanya untuk pedagang adalah nol," kata Airlangga.
Dengan sistem pembayaran digital lintas negara tersebut, Airlangga menilai UMKM akan lebih mudah melakukan transaksi dengan konsumen dari negara ASEAN sekaligus memanfaatkan platform digital untuk mendukung ekspor.
Ia pun mendorong semakin banyak UMKM masuk ke ekosistem digital, terutama pelaku usaha yang menghasilkan produk-produk artisan.
"Ini kesempatan buat Pak Menteri UMKM (Maman Abdurrahman) supaya semakin banyak UMKM ini menjadi go digital, apalagi produk-produk yang berupa artisan," imbuhnya.
Baca juga: Menteri PPN ingin "blockchain" berdampak nyata bagi pembangunan
Baca juga: BI Purwokerto terus perluas QRIS untuk perkuat ekonomi digital daerah
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.