75 Stasiun KAI Catat 7,64 Juta Aktivitas Naik-Turun Pelanggan di Sumatra
Sebanyak 60,44 persen aktivitas berlangsung di luar lima stasiun dengan volume terbesar, memperlihatkan luasnya peran kereta api bagi perjalanan antarkota dan daerahJakarta (ANTARA) - Perjalanan kereta api di S...
Sebanyak 60,44 persen aktivitas berlangsung di luar lima stasiun dengan volume terbesar, memperlihatkan luasnya peran kereta api bagi perjalanan antarkota dan daerah
Jakarta (ANTARA) - Perjalanan kereta api di Sumatra membentuk jaringan mobilitas yang tersebar dari pusat provinsi hingga kota-kota di tingkat kabupaten. Sepanjang Semester I 2026, sebanyak 75 stasiun KAI di Sumatra mencatat 7.637.540 aktivitas naik dan turun pelanggan.
Jumlah tersebut terdiri atas 3.818.770 aktivitas pelanggan naik dan 3.818.770 aktivitas pelanggan turun. Secara rata-rata, stasiun-stasiun tersebut melayani sekitar 42.196 aktivitas naik-turun pelanggan setiap hari selama Januari hingga Juni 2026.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan data tersebut menggambarkan kuatnya fungsi stasiun dalam mendukung perjalanan masyarakat dengan kebutuhan yang beragam.
“Perjalanan pelanggan di Sumatra tersebar di banyak stasiun. Ada yang bepergian untuk bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, berobat, mengunjungi keluarga, serta menikmati perjalanan wisata. Setiap stasiun melayani karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat yang berbeda,” ujar Anne.
Lima stasiun dengan aktivitas terbesar selama Semester I 2026 adalah Stasiun Medan sebanyak 997.723 aktivitas, Stasiun Padang 613.140 aktivitas, Stasiun Kertapati 587.556 aktivitas, Stasiun Pariaman 432.449 aktivitas, serta Stasiun Tanjungkarang 390.415 aktivitas.
Kelima stasiun tersebut secara keseluruhan mencatat 3.021.283 aktivitas atau 39,56 persen dari total aktivitas pelanggan di Sumatra. Adapun 4.616.257 aktivitas lainnya atau 60,44 persen berlangsung di 70 stasiun lain.
Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan kereta api di Sumatra tersebar luas. Aktivitas pelanggan hadir di stasiun pusat kota, kawasan perdagangan, kota kabupaten, wilayah industri, kawasan pendidikan, destinasi wisata, hingga titik yang terhubung dengan bandara.
“Data ini menarik karena sebagian besar aktivitas justru tersebar di luar lima stasiun dengan volume tertinggi. Artinya, layanan kereta api memiliki peran yang dekat dengan kehidupan masyarakat di banyak daerah,” kata Anne.
Pada wilayah Divisi Regional I Sumatera Utara, sebanyak 28 stasiun mencatat 2.781.970 aktivitas naik-turun pelanggan, setara 36,42 persen dari keseluruhan aktivitas pelanggan KAI di Sumatra.
Stasiun Medan menjadi stasiun dengan aktivitas terbesar sebanyak 997.723. Aktivitas pelanggan kemudian tersebar di Stasiun Kisaran sebanyak 289.385, Rantau Prapat 258.281, Tanjung Balai 252.216, Tebing Tinggi 205.035, dan Siantar 193.654.
Aktivitas juga tercatat di Stasiun Bandar Kalipah sebanyak 95.715, Lubukpakam 76.736, Perlanaan 55.073, serta Mambang Muda 54.894. Data tersebut memperlihatkan hubungan perjalanan antara pusat Kota Medan, wilayah perkebunan, pusat perdagangan, kawasan pendidikan, dan kota-kota di pantai timur Sumatra Utara.
Pada wilayah Divisi Regional II Sumatera Barat, sebanyak 20 stasiun mencatat 2.284.932 aktivitas naik-turun pelanggan atau 29,92 persen dari total aktivitas di Sumatra.
Stasiun Padang melayani 613.140 aktivitas, disusul Pariaman 432.449, Air Tawar 213.880, Naras 138.383, Lubuk Alung 131.044, serta Stasiun Bandara Internasional Minangkabau 110.093 aktivitas.
Aktivitas pelanggan di Stasiun Kuraitaji mencapai 98.580, Alai 81.830, Pauh Kambar 72.766, dan Kayutanam 65.352. Sebaran ini menggambarkan peran kereta api dalam menghubungkan pusat Kota Padang, kawasan pendidikan, permukiman, destinasi pantai, bandara, serta daerah di sepanjang lintas Padang–Pariaman dan Padang–Kayutanam.
“Karakter perjalanan di Sumatra Barat memperlihatkan hubungan yang erat antara mobilitas harian, pendidikan, wisata, dan akses bandara. Stasiun dengan skala pelayanan yang berbeda tetap memiliki arti penting bagi pelanggan di wilayahnya,” ujar Anne.
Pada wilayah Divisi Regional III Palembang, sembilan stasiun mencatat 1.209.971 aktivitas naik-turun pelanggan. Stasiun Kertapati menjadi yang terbesar dengan 587.556 aktivitas, kemudian Lubuklinggau 255.237, Lahat 111.345, Prabumulih 99.634, dan Muara Enim 93.325 aktivitas.
Stasiun-stasiun tersebut menghubungkan pusat pemerintahan, kawasan perdagangan, pendidikan, industri, pertambangan, dan permukiman di Sumatra Selatan. Perjalanan pelanggan menunjukkan hubungan yang kuat antara Palembang dan kota-kota di bagian tengah hingga barat provinsi tersebut.
Sementara itu, sebanyak 18 stasiun di wilayah Divisi Regional IV Tanjungkarang mencatat 1.360.667 aktivitas naik-turun pelanggan. Stasiun Tanjungkarang melayani 390.415 aktivitas, Kotabumi 257.105, Baturaja 206.406, Martapura 100.186, serta Blambangan Umpu 99.199 aktivitas.
Aktivitas lainnya tercatat di Stasiun Labuan Ratu sebanyak 79.454, Waytuba 41.403, Tulung Buyut 26.223, Peninjawan 22.698, dan Tegineneng 22.217 aktivitas.
Sebaran tersebut memperlihatkan posisi kereta api dalam mendukung perjalanan masyarakat antara Lampung dan Sumatra Selatan, termasuk perjalanan menuju pusat kota, kawasan pendidikan, pasar, pusat layanan masyarakat, serta kunjungan keluarga.
Berdasarkan data bulanan, aktivitas naik-turun pelanggan di Sumatra mencapai 1.247.838 pada Januari, 1.078.232 pada Februari, 1.343.802 pada Maret, 1.269.520 pada April, 1.332.066 pada Mei, dan 1.366.082 pada Juni 2026.
Juni menjadi bulan dengan aktivitas tertinggi selama Semester I 2026. Rata-ratanya mencapai sekitar 45.536 aktivitas per hari, lebih tinggi dibandingkan rata-rata semester pertama sebanyak 42.196 aktivitas per hari.
Menurut Anne, data naik dan turun pelanggan memberi gambaran mengenai pola perjalanan yang perlu dilayani di setiap wilayah. Informasi tersebut dapat digunakan untuk membaca waktu perjalanan yang ramai, kebutuhan pelayanan stasiun, penyampaian informasi, kesiapan petugas, serta keterhubungan dengan transportasi lanjutan.
“Di balik setiap angka terdapat perjalanan masyarakat yang perlu dilayani dengan aman dan nyaman. Data stasiun membantu KAI memahami bagaimana layanan digunakan dari hari ke hari dan bagaimana kebutuhan pelanggan berbeda di setiap daerah,” kata Anne.
KAI saat ini mengelola wilayah operasi di Pulau Jawa dan Sumatra. Pengelolaan di Sumatra mencakup Divisi Regional I Sumatera Utara, Divisi Regional II Sumatera Barat, Divisi Regional III Palembang, Divisi Regional IV Tanjungkarang, serta satu Subdivisi Regional Aceh. Secara nasional, KAI memiliki 627 stasiun dan 7.765 kilometer jalur rel aktif.
Angka aktivitas naik-turun dalam rilis ini merupakan pencatatan pelanggan di stasiun keberangkatan dan stasiun kedatangan. Satu perjalanan tercatat pada dua titik tersebut, sehingga angka 7,64 juta menggambarkan aktivitas pelayanan stasiun dan tidak menggambarkan jumlah individu unik.
“Stasiun merupakan ruang yang mempertemukan perjalanan pelanggan dengan aktivitas wilayah. Melalui layanan yang aman, tepat waktu, dan nyaman, kehadiran kereta api memberi masyarakat pilihan untuk menjangkau lebih banyak kota dan daerah di Sumatra,” tutup Anne.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.