7 Kebiasaan Stimulasi Perkembangan Bahasa pada Anak, Bunda Perlu Tahu
Jakarta - Untuk membantu optimalkan stimulasi perkembangan bahasa pada anak, ada kegiatan sederhana yang dapat Bunda lakukan di rumah. Apa saja? Beberapa contoh a...
Jakarta -
Untuk membantu optimalkan stimulasi perkembangan bahasa pada anak, ada kegiatan sederhana yang dapat Bunda lakukan di rumah. Apa saja?
Beberapa contoh aktivitas sederhana yang bisa dilakukan termasuk seperti rajin mengajak anak berbicara, membaca buku, serta bermain permainan imajinatif.
Meski terlihat mudah, kegiatan-kegiatan ini perlu dilakukan sesuai dengan tahap usianya ya, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tonggak komunikasi adalah keterampilan yang rata-rata diharapkan sudah dimiliki anak pada usia tertentu. Ini semua saling berkaitan dan membantu orang tua mengetahui apakah perkembangan anak berjalan sesuai harapan," ungkap patologi wicara anak, Adena Dacy, dikutip dari Parents.
Kapan bayi mulai bicara kata pertamanya?
Saat bayi mulai memahami bunyi bahasa, mereka umumnya belum mengucapkan kata pertama sampai sekitar usia 1 tahun.
Sebenarnya perlu dipahami bahwa sejak lahir bayi sudah memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi dengan orang tua. Mulai dari menangis, bergumam, bergurau (cooing), serta tersenyum.
Jadi, kapan bayi benar-benar mengucapkan kata pertama sebenarnya tidak pasti dan tidak bisa disamaratakan.
"Ada rentang usia ketika bayi mulai mengucapkan kata pertamanya. Secara umum, bayi akan mengucapkan kata pertama antara usia 9 hingga 12 bulan," tutur terapis wicara, Jocelyn Wood, CCC-SLP.
Untuk membantu stimulasi perkembangan bahasa pada anak, berikut beberapa kegiatan yang bisa dilakukan bersama:
1. Bernyanyi dan sering memutar musik
Musik merupakan salah satu sarana yang ampuh untuk mendukung perkembangan bahasa sejak dini.
Mendengarkan lagu dan bernyanyi bersama orang tua juga diyakini dapat meningkatkan kemampuan bayi dalam mengenali pola, ritme, dan kosakata baru.
Penelitian dalam jurnal Infant Behavior and Development menunjukkan adanya hubungan antara lingkungan yang kaya akan stimulasi musik dan peningkatan kemampuan komunikasi pada bayi.
2. Ajak bayi berbicara sambil menggunakan gerakan
Bayi peka terhadap perubahan tinggi rendah suara, volume, dan ritme, jauh sebelum mereka mulai mampu mengucapkan kata-kata.
Isyarat-isyarat ini membantu bayi mulai menghubungkan suara dengan makna. Misalnya, memahami hubungan antara tangisan dan datangnya Bunda.
Terapis wicara-bahasa, Rachel Cortese, menjelaskan kepada Child Mind Institute bahwa bayi sudah mulai belajar menyadari hubungan timbal balik antara vokalisasi dan terpenuhinya kebutuhan mereka.
"Hal ini mendorong mereka untuk mulai mengomunikasikan kebutuhan secara sengaja, misalnya melalui menunjuk, bahasa tubuh, dan mengeluarkan lebih banyak suara," imbuh Cortese.
Jadi, meskipun bayi belum mampu terlibat dalam percakapan menggunakan kata-kata, mereka memperhatikan segala sesuatu yang Bunda lakukan.
Pada usia 18 bulan hingga 2 tahun, batita mungkin mencapai beberapa tonggak komunikasi, seperti mampu mengucapkan 10 hingga 50 kata yang berbeda, mengikuti instruksi sederhana, dan menggunakan frasa sederhana yang terdiri dari dua kata.
3. Bacakan buku sesering mungkin
Saat memasuki usia 18 bulan ke atas, Bunda bisa mulai rutin mengajaknya membaca buku bersama-sama.
Meskipun Si Kecil belum bisa duduk dengan tenang dalam waktu lama, kegiatan ini bisa efektif untuk mendukung perkembangan bahasa dan bicaranya.
Buku bergambar membantu memperkaya kosakata melalui pengenalan kata, memperkenalkan konsep-konsep baru, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kegiatan bercerita.
Berbagai penelitian secara konsisten mengaitkan kegiatan membaca dengan perkembangan kemampuan bahasa yang lebih baik.
4. Menceritakan kegiatan sehari-hari
Bercerita tentang kegiatan sehari-hari menjadi salah satu cara sederhana dan efektif untuk memberi contoh penggunaan bahasa pada anak.
Ceritakan apa yang sedang orang tua lakukan dekat anak, misalnya "Bunda sedang melipat pakaian" atau "Ayah sedang membuat sarapan pagi".
Selain itu, bisa juga untuk menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh Si Kecil. Misalnya, "Wah, kamu sedang menyusun mainan balok warna merah".
Ujaran bahasa deskriptif yang terus-menerus ini membantu anak menghubungkan kata dengan tindakan dan benda, hingga akhirnya mampu membentuk kalimat.
5. Ajak bermain permainan imajinatif
Nah, ketika anak sudah mulai memasuki usia 2 tahun ke atas, Bunda bisa lebih sering mengajaknya bermain permainan imajinatif seperti pretend play atau bermain pura-pura. Tak hanya seru, kegiatan ini juga sangat baik untuk mengembangkan imajinasi dan mendukung perkembangan bahasa anak.
Saat bermain pura-pura menjadi koki, astronot, atau dokter, mereka melatih kemampuan bercerita dan mengekspresikan emosi. Permainan imajinatif seperti ini juga membantu memperkaya kosakata dan belajar cara menyusun kalimat.
6. Berikan pertanyaan terbuka
Jangan membatasi anak dengan hanya mengajukan pertanyaan yang jawabannya 'ya' atau 'tidak'. Ajukan pertanyaan yang memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan.
Misalnya seperti berikut, Bunda: "Tadi kamu membuat apa dengan mainan balok-balok itu di sekolah?" atau "Menurutmu, kenapa bebeknya berenang berputar-putar?".
7. Hindari terlalu sering mengoreksi
Semua tahapan belajar perlu waktu dan proses, termasuk saat anak sedang belajar bicara dan mengenal kalimat-kalimat baru.
Jika penggunaan kata dan kalimat mereka belum tepat, jangan langsung mengoreksi atau mengkritik. Sebagian anak mungkin bisa menafsirkan respons tersebut secara negatif dan menjadi enggan mencoba lagi.
Ada juga anak yang akan merasa sangat malu jika terus-menerus dikoreksi, sehingga tidak mau bercerita lagi.
Untuk meresponsnya, secara perlahan Bunda bisa mengulangi kembali kalimat mereka dengan susunan kata yang sudah diperbaiki.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Meski setiap anak memiliki kecepatan masing-masing dalam proses belajar bicara, ada beberapa tanda yang bisa dikonsultasikan dengan profesional:
- Pada usia 12 bulan, bayi belum mulai mengucapkan kata apa pun atau hanya mengoceh tanpa kemajuan.
- Bayi tidak menunjukkan respons terhadap namanya atau tidak tampak memahami kata-kata sederhana setelah 12 sampai 18 bulan.
- Pada usia 18 bulan, kosa kata yang sangat terbatas (misalnya kurang dari 5–15 kata) dibandingkan dengan anak seusianya.
- Tidak ada usaha untuk meniru suara atau bunyi. Tidak ada gestur komunikasi seperti menunjuk, melambaikan tangan, atau bereaksi terhadap isyarat verbal.
Itulah penjelasan tentang kebiasaan-kebiasaan untuk menstimulasi perkembangan bahasa pada anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)