60 Persen Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG Ingatkan Ancaman Krisis Air Bersih
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan sekitar 60 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut mendorong BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk periode dasarian II Juli 2026 atau 11–20 Juli 2026.
Bagikan:
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan sekitar 60 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut mendorong BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi kekeringan meteorologis untuk periode dasarian II Juli 2026 atau 11–20 Juli 2026.
BMKG menjelaskan, berkurangnya curah hujan di berbagai daerah meningkatkan potensi kekeringan, terutama di wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami hujan dengan intensitas sangat rendah atau bahkan tidak turun hujan sama sekali.
Meski belum ada daerah yang masuk kategori "awas", sejumlah wilayah diperkirakan menghadapi potensi kekeringan pada level "siaga", khususnya di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara.
Berdasarkan analisis BMKG, wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis kategori "siaga" meliputi sejumlah kabupaten dan kota di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sementara itu, wilayah dengan tingkat potensi kekeringan kategori "waspada" tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku, hingga Papua Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau dengan menggunakan air secara hemat dan bijaksana guna menjaga ketersediaan pasokan air bersih.
Selain itu, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang vegetasinya mulai mengering akibat minimnya curah hujan.
BACA JUGA:
BMKG juga menyarankan masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari apabila tidak mendesak. Selama musim kemarau, suhu udara umumnya lebih tinggi sehingga meningkatkan risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan akibat paparan panas.
Dengan semakin meluasnya wilayah yang memasuki musim kemarau, BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat pada periode puncak kemarau.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+