5 Fakta Budaya Ngopi di Korea Utara, Kopi Sachet Dianggap Mewah!
Jakarta - Budaya ngopi di Korea Utara ternyata berkembang pesat. Mulai dari kopi sachet, kafe modern di Pyongyang, hingga racikan kopi lokal yang menarik.Kopi menjadi salah satu minuman populer yang digemari m...
Jakarta -
Budaya ngopi di Korea Utara ternyata berkembang pesat. Mulai dari kopi sachet, kafe modern di Pyongyang, hingga racikan kopi lokal yang menarik.
Kopi menjadi salah satu minuman populer yang digemari masyarakat di berbagai belahan dunia. Kehadirannya bahkan melahirkan kebiasaan baru dalam setiap budaya.
Budaya minum kopi juga berkembang dengan cara berbeda di setiap negara. Ada yang menjadikannya bagian dari tradisi, sementara sebagian lainnya mengenal kopi sebagai minuman modern.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Korea Utara, perjalanan kopi memiliki cerita tersendiri. Berbeda dengan budaya ngopi di Korea Selatan yang lebih modern, di Korea Utara budaya ngopi ini awalnya terbilang asing.
Tapi kini perlahan mendapat tempat di tengah masyarakat, bahkan melahirkan tren kedai kopi hingga produk lokal.
Dilansir dari Korea Peninsula A to Z, (3/10/2026), berikut lima fakta di balik budaya kopi di Korea Utara:
Konsumsi kopi di Korea Utara dikaitkan dengan simbol kapitalisme. Foto: Food and Wine
1. Kopi Dianggap Simbol Kapitalisme
Korea Utara dikenal memiliki tradisi minum teh yang sudah berlangsung lama. Sementara itu, kopi bukanlah minuman yang umum ditemukan dalam kehidupan masyarakatnya.
Kopi bahkan pernah dikaitkan dengan budaya kapitalisme. Minuman ini dianggap sebagai simbol kebiasaan masyarakat asing yang bertentangan dengan ideologi negara tersebut.
Mantan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Il, juga disebut menikmati kopi. Kim Yong Nam, mantan Ketua Presidium Majelis Rakyat Tertinggi, diketahui terbiasa menyantap roti, susu, mentega, dan kopi saat sarapan.
2. Budaya Kopi Sejak 1990an
Perkembangan kopi di Korea Utara semakin terlihat setelah runtuhnya Uni Soviet. Memasuki awal 2000-an, kopi mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat berada di Pyongyang.
Data Organisasi Kopi Internasional yang dikutip KBS World, menunjukkan peningkatan impor kopi. Pada periode 1990-1999, Korea Utara mengimpor kurang dari 1.000 karung kopi setiap tahun.
Jumlah tersebut meningkat hingga rata-rata 19.000 karung per tahun pada 2012. Setiap karung memiliki berat sekitar 60 kilogram, menunjukkan perubahan permintaan kopi di negara tersebut.
3. Kopi Kemasan Banyak Digemari
Selain kopi di kafe, masyarakat di Korea Utara juga mengenal kopi instan dalam kemasan sachet. Minuman ini dikenal dengan sebutan stick coffee karena bentuk kemasannya yang praktis.
Popularitasnya berkaitan dengan keberadaan Kawasan Industri Kaesong. Pekerja Korea Utara di kawasan tersebut pernah menerima kopi instan buatan Korea Selatan sebagai bagian dari keseharian mereka.
Bahkan setelah kawasan industri tersebut ditutup pada 2016, minuman ini tetap diminati masyarakat. Produk tersebut sering disajikan kepada tamu sebagai bentuk penghormatan sekaligus menunjukkan kemampuan ekonomi tuan rumah.
Bisa dibilang kopi sachet di Korea Utara, kerap dianggap sebagai minuman mewah karena peredarannya yang masih terbatas. Berbeda dengan negara lainnya, di mana kopi sachet justru lebih ekonomis.
Salah satu buktinya ditandai dengan kemunculan kafe modern di Pyongyang, Korea Utara. Foto: iStock
4. Kafe Modern Muncul di Pyongyang
Perkembangan budaya kopi turut ditandai dengan kemunculan sejumlah kedai modern. Salah satunya Sunrise Cafe yang berada di kawasan Munsu Water Park.
Foto Kim Jong Un dan istrinya, Ri Sol Ju, saat menikmati kopi di tempat tersebut pernah menjadi sorotan pada 2012. Ada pula kafe di kompleks Haedanghwa yang menawarkan beragam pilihan kopi dan teh.
Mansugyo Soft Drink Shop menjadi tempat lain yang dikenal memiliki desain bangunan unik. Kedai ini berada di tepi Sungai Pothong dan memiliki atap menyerupai kelopak bunga.
5. Berkembangnya Tren Kopi Lokal
Budaya kopi di Korea Utara tidak hanya berkembang di kedai. Kebiasaan menyajikan kopi kepada tamu di rumah maupun kantor juga mulai dikenal masyarakat.
Masyarakat mulai tertarik membuat racikan kopi sendiri. Permintaan terhadap biji kopi, filter, dan penggiling kopi juga disebut meningkat.
Korea Utara bahkan mengembangkan sejumlah produk kopi bercita rasa ginseng merah yang menggabungkan kopi, susu, dan bahan ginseng.
Tetapi pada November 2023, disebut Korea Utara mengalami kesulitan impor biji kopi yang memengaruhi operasional sejumlah kedai.
Baca juga: Shanty Denny Coba Puding Lele, Begini Reaksinya pada Suapan Pertama!
Halaman 2 dari 2
Simak Video "Video: Saat Kopi Jadi Tren, Masih Adakah Masa Depan Teh Jawa Barat?"
[Gambas:Video 20detik]
(dfl/sob)