pickleballvnz.com

3 Bakteri dalam Makanan yang Racunnya Tak Hilang Meski Dimasak, Kenali Risikonya

 Lifestyle Senin, 19 Oktober 2026 - 18:51 WIB Jakarta, VIVA – Memasak maka...

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Jakarta, VIVA – Memasak makanan hingga matang tidak selalu menjamin hidangan aman dikonsumsi. Sebab, sejumlah bakteri dapat menghasilkan racun yang tetap bertahan meskipun bakteri penyebabnya sudah mati akibat proses pemanasan. Kondisi ini perlu diwaspadai karena racun tersebut berpotensi memicu keracunan makanan.

Baca Juga

Ada tiga bakteri yang perlu mendapat perhatian, yakni Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Escherichia coli atau E. coli. Ketiganya dapat mencemari makanan melalui berbagai tahapan, mulai dari penanganan bahan mentah hingga penyimpanan dan penyajian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dokter sekaligus pendidik gizi Tan Shot Yen menyoroti temuan tiga bakteri tersebut dalam sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berkaitan dengan kasus keracunan ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, pada September lalu.

Baca Juga

Menurut Tan, keberadaan ketiga bakteri dalam sampel makanan merupakan persoalan serius. Ia menyebut temuan tersebut sebagai bentuk “pengabaian yang amat keterlaluan”.

Berikut tiga bakteri yang perlu dikenali karena berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Baca Juga

1. Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang dapat ditemukan pada kulit dan hidung manusia. Bakteri ini berpotensi mencemari makanan melalui tangan yang tidak bersih atau penanganan makanan yang kurang higienis.

Dalam kondisi tertentu, bakteri tersebut menghasilkan enterotoksin yang dapat bertahan terhadap pemanasan. Artinya, meskipun proses memasak berhasil membunuh bakterinya, racun yang sudah terbentuk belum tentu ikut hilang.

Keracunan akibat toksin ini umumnya ditandai dengan mual, muntah, kram perut, dan terkadang diare. Gejalanya dapat muncul relatif cepat setelah makanan yang terkontaminasi dikonsumsi.

2. Bacillus cereus

Bakteri kedua adalah Bacillus cereus, yang kerap dikaitkan dengan makanan berbahan beras, termasuk nasi. Bakteri ini mampu membentuk spora yang tahan terhadap panas sehingga dapat bertahan melewati proses memasak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Risiko meningkat apabila nasi matang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang. Dalam kondisi yang mendukung, bakteri dapat berkembang dan menghasilkan racun.

Tan menjelaskan bahwa salah satu racun yang dihasilkan bakteri ini adalah cereulide, yang dapat memicu mual dan muntah dalam rentang sekitar 30 menit hingga enam jam setelah makan.

Halaman Selanjutnya

“Bakteri pembentuk spora yang sering mencemari beras dan nasi. Sporanya tahan panas, sehingga tidak mati saat nasi dimasak, terutama pada nasi yang disimpan pada suhu ruang,” kata Tan.