28 penyandang tunarungu meikuti ajang MTQ Nasional 2026
Sebanyak 28 penyandang tunarungu mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 di Semarang, Jateng, pada Cabang Tartil Al Quran Isyarat Golongan ANTARA News jateng peristiwa ...
28 penyandang tunarungu meikuti ajang MTQ Nasional 2026
Rabu, 16 September 2026 20:43 WIB
Peserta penyandang tunarungu mengikuti cabang perlombaan Tartil Al Quran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli pada MTQ Nasional XXXI, di Semarang, Jawa Tengah. ANTARA/HO-Pemprov Jateng
Semarang (ANTARA) - Sebanyak 28 penyandang tunarungu mengikuti ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI tahun 2026 di Semarang, Jateng, pada Cabang Tartil Al Quran Isyarat Golongan Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu/Tuli.
Ketua Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI) Rama Syahti di Semarang, Rabu, mengatakan bahwa mereka berasal dari 14 komunitas tuli Muslim dari beberapa daerah.
"Alhamdulillah, ini adalah MTQ Nasional pertama yang melibatkan teman tuli, dan tentunya kami lihat peserta sangat bersemangat, pendamping sangat bersemangat,” katanya.
Perlombaan untuk cabang tersebut berlangsung di Hotel MG Setos Semarang yang menjadi salah satu arena perlombaan MTQ Nasional XXXI.
Ia menyebutkan ada dua metode yang digunakan dalam cabang itu, yaitu kitabah dan tilawah.
Kitabah adalah isyarat Quran yang mengikuti tulisan, sehingga tidak terlibat hukum tajwid yang terlalu dalam.
"Sehingga, untuk teman-teman tuli kebanyakan ini akan sangat mudah, tidak sulit untuk dipelajari dan diisyaratkan," katanya.
Sedangkan untuk metode tilawah, yaitu sesuai dengan ucapan atau bagaimana membaca Al Quran yang diisyaratkan, sehingga hukum tajwid dilibatkan.
Ia menjelaskan untuk penilaian, yaitu pertama adalah ketepatan isyarat atau bentuk tangannya tepat untuk hurufnya, kemudian adalah gerakan harakatnya juga betul.
Ketiga, adalah adab dan gerakan mulut tidak masuk ke dalam poin, sehingga boleh digerakkan atau boleh tidak, tergantung kenyamanan dan itu tidak menambah ataupun mengurangi poin.
"Contoh Al Quran, ini kan untuk seluruh manusia, tapi aksesnya berbeda-beda. Orang dengar dia menggunakan suara membaca Quran begitu. Orang netra pakai Al Quran braille ya. Nah, kalau tuli pakai Quran isyarat," katanya.
"Jadi isyarat tangan itu yang dinilai, bentuk tangan, posisi, gerakan dan adab," pungkasnya.
Salah satu peserta, Aisyah Syerviyah dari Kafilah Provinsi Jawa Timur mengaku menjalani lima kali latihan, sebelum tampil dalam musabaqah tersebut.
Ia menyampaikan bahwa kesempatan untuk tampil di MTQ Nasional merupakan anugerah yang patut disyukuri.
Sementara Azaroby Dwi Anggoro dari Kafilah Provinsi Banten juga merasakan kegembiraan serupa, dan mengaku sempat gugup ketika tampil di hadapan banyak orang.
Meski demikian, ia berusaha tetap santai dan mengondisikan diri selama penampilan, karena telah mempersiapkan diri selama dua pekan menghadapi perlombaan tersebut.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan dan BSI wujudkan rumah impian kalangan pekerja
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.