19 tahun menuju satu abad TNI
Pada 22 September 2026, dua pekan menjelang hari jadi ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebuah forum di Kementerian Pertahanan membicarakan interoperabilitas alutsista. ANTARA News ntt 10 ...
Jakarta (ANTARA) - Pada 22 September 2026, dua pekan menjelang hari jadi ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), sebuah forum di Kementerian Pertahanan membicarakan interoperabilitas alutsista. Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan Taufanto membuka diskusi mengenai peningkatan interoperabilitas TNI untuk operasi gabungan terintegrasi personel, doktrin, prosedur, data, jaringan, sensor, komando dan platform yang harus bekerja sebagai satu kesatuan.
Pesawat tempur, kapal perang, tank, rudal, dan radar mudah dikenali sebagai kekuatan: bentuknya terlihat, jumlahnya dapat dihitung. Pekerjaan yang membuat semua itu berguna justru berlangsung jauh dari pandangan manusia yang mengoperasikan dan merawatnya, data yang harus bergerak, latihan yang mempertemukan kemampuan berbeda. Ada jarak antara mempunyai sesuatu dan benar-benar mampu menggunakannya sebagai bagian dari kekuatan.
Forum itu berlangsung menjelang ulang tahun TNI. Ada angka lain yang lebih jauh: 19 tahun lagi, TNI berusia satu abad. Rentang itu cukup panjang untuk mendatangkan pesawat baru, membangun kapal, mendidik ribuan prajurit, dan juga cukup panjang bagi teknologi berganti generasi serta ancaman berpindah wajah.
Ulang tahun ke-81 menyimpan pertanyaan untuk usia 100: ketika 5 Oktober 2045 tiba, apakah kekuatan yang kita bangun hari ini masih menjawab tantangan yang benar-benar dihadapi TNI saat itu?
Belajar dari perubahan
TNI mengenal perubahan sejak kelahirannya dari Badan Keamanan Rakyat hingga Tentara Nasional Indonesia, dan dari Reformasi 1998 yang menuntut pelepasan praktik lama, bukan penambahan. Sejarah itu tidak menjamin perubahan berikutnya lebih mudah.
Setiap angkatan bersenjata membawa pengalaman lama ketika mempersiapkan perang yang belum terjadi. Masalah muncul ketika pelajaran yang pernah bekerja bertahan lebih lama daripada keadaan yang melahirkannya, seperti Prancis pada 1940, yang lebih sering digambarkan terlalu sederhana ketimbang dipahami sebagai kegagalan mempertanyakan asumsi sendiri.
Amerika Serikat menata ulang doktrinnya setelah Vietnam, dari active defense hingga airland battle; yang menentukan bukan nama doktrinnya, melainkan mekanisme mempertanyakan jawaban sendiri.
Perang Rusia-Ukraina menunjukkan proses serupa dengan tempo yang lebih mudah disaksikan: menyimpulkan masa depan hanya "perang drone" berisiko mengambil pelajaran terlalu sempit, karena yang lebih menetap adalah kenyataan bahwa pihak lain juga belajar.
Indonesia tetap harus memperkirakan ancaman. Ketidakpastian bukan alasan meninggalkan perencanaan. Hanya saja, perencanaan selalu membawa asumsi, dan sistem yang kini memberi keunggulan dapat menghadapi countermeasure yang belum tersedia saat keputusan pengadaan dibuat. Ancaman tidak berkewajiban menunggu semuanya selesai.
Kekuatan menjadi kemampuan
Indonesia tidak memulai 19 tahun menuju 2045 dari halaman kosong. Modernisasi alutsista yang dimulai ketika Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan berlanjut setelah ia menjadi Presiden RI pada Mei 2026, menyerahkan Rafale, A400M, Falcon 8X dan radar GM403 kepada TNI.
Empat hari sebelum forum interoperabilitas, ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Jakarta. Kedatangan kapal yang mudah terlihat, sementara pekerjaan sesudahnya jauh lebih panjang: manusia menguasainya, doktrin dikembangkan, latihan mempertemukannya dengan kemampuan lain.
Kemampuan tidak lahir saat sebuah platform berpindah kepemilikan, melainkan ketika organisasi mampu menyerap dan menggunakannya.
Interoperabilitas, karena itu jauh melampaui kompatibilitas alat komunikasi. TNI AD, TNI AL dan TNI AU dapat memperkuat kemampuan masing-masing, tetapi tiga matra yang kuat tidak otomatis menghasilkan kekuatan gabungan bernilai sama.
Tiga ujung tombak membutuhkan satu gerak yang sama. Tiga matra yang kuat tidak otomatis menghasilkan kekuatan gabungan bernilai sama, seperti diatur dalam Doktrin Perisai Trisula Nusantara yang disahkan Juli 2026: tiga ujung membutuhkan satu gerak.
Ada perbedaan antara modern dan adaptif yang layak dipegang di sini. Modern adalah keadaan pada suatu waktu; adaptif adalah kemampuan untuk tetap relevan ketika keadaan itu berubah.
Dua jam yang berbeda
"Optimum Essential Force" masuk dalam agenda pembangunan postur pertahanan RPJMN 2025–2029. Keputusan yang dibuat dalam periode ini akan hidup melampaui dokumen perencanaannya pada manusia yang tumbuh dalam organisasi, doktrin yang diajarkan, ketergantungan yang baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Berapa lama sebuah institusi membutuhkan waktu untuk mengetahui bahwa masalah yang dihadapinya ternyata berbeda dari masalah yang telah dipersiapkan?
Ada dua bahaya yang sama mungkin terjadi: terlambat menyadari keadaan sudah berubah, atau terlalu cepat menganggap tiap kejadian baru sebagai perubahan mendasar. Hal yang lebih sulit ada di antara keduanya mengenali perubahan yang sungguh penting, memahaminya dengan cukup baik, lalu bertindak ketika tindakan masih mempunyai arti.
Perwira muda yang hari ini duduk di ruang pendidikan mungkin masih berdinas ketika TNI genap berusia 100 tahun. Keputusan yang pada 2026 kita sebut pembangunan kekuatan, bagi mereka kelak bukan lagi rencana. Itulah yang tersedia, atau tidak tersedia, ketika mereka harus bertindak.
Untuk Indonesia
Tema HUT ke-81 TNI, "TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur", memberi tujuan yang lebih jelas bagi pembicaraan mengenai 2045.
"Kuat" tidak hanya berada pada sesuatu yang terlihat; selisih antara inventaris dan kekuatan nyata sering berada pada pekerjaan yang tidak terlihat. "Bersama rakyat" akan dijalani dalam masyarakat yang semakin urban dan digital, tempat kedekatan harus berjalan bersama profesionalisme dan kejelasan peran.
Modernisasi menyentuh kedaulatan lewat sisi yang jarang terlihat: Indonesia tidak harus membuat semuanya sendiri, tetapi perlu mengetahui ketergantungan mana yang dapat diterima, mana perlu didiversifikasi, dan mana yang dapat mempersempit pilihan ketika keadaan memburuk. Kedaulatan juga tampak dari ruang yang masih dimiliki negara untuk memilih.
Adil dan makmur berada di luar jangkauan tunggal TNI. Pertahanan hanya menjaga salah satu ruang agar pekerjaan yang jauh lebih besar itu dapat berlangsung.
Menuju dua abad
Tahun 2045 mempertemukan dua usia: TNI genap satu abad ketika Republik Indonesia juga telah melewati satu abad kemerdekaan. Generasi 1945 tidak mewariskan cara yang harus diulang selamanya. Mereka mewariskan negara yang harus tetap dijaga meski persoalan untuk menjaganya terus berubah.
Pada 22 September, orang-orang di Kementerian Pertahanan berbicara tentang interoperabilitas. Pekerjaan itu akan tetap ada, apa pun nama ancaman pada 2045.
Sembilan belas tahun masih tersedia untuk menyiapkan apa yang dapat diperkirakan. Ketika ancaman benar-benar datang, jam yang lain mulai berdetak. Jika ia datang seperti yang diperkirakan, kekuatan yang dibangun harus siap. Jika ia datang dalam bentuk berbeda, TNI harus mampu mengetahui perbedaannya, memahami apa yang sedang berubah, dan bertindak sebelum ruang pilihan menyempit.
Keberhasilan menuju satu abad TNI tidak akan ditentukan oleh kemampuan kita menebak dunia 2045 dengan sempurna. Ukurannya adalah apakah selama sembilan belas tahun ini kita membangun kekuatan yang siap menghadapi apa yang dapat diperkirakan, sekaligus institusi yang mampu belajar ketika perkiraan itu tidak lagi cukup.
Dunia boleh mengubah pertanyaannya. Hal yang tidak bisa diubah adalah kapan jam kedua mulai berdetak. Sembilan belas tahun ke depan adalah satu-satunya waktu yang TNI miliki untuk memastikan, begitu jam itu berbunyi, jawabannya sudah siap untuk Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
*) Kolonel Inf Muchlis Gasim, SH, MSi, MHI, CHMP adalah Kepala Sub-Dinas Penerangan Khusus Dinas Penerangan Angkatan Darat
Editor: Anton Santoso
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.